Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Gerakan yang digawangi Mbak Tati, panggilan akrab saya terhadapnya. Tidak jauh dari apa yang dilakukan Ruhana Kudus. Sejak 2006, Mbak Tati dan suaminya fokus dalam penguatan masyarakat desa, untuk hidup sehat tanpa pertanian organik. Bukan sekadar soal pertanian, Mbak Tati dan suaminya mendidik anak-anak desa melalui gelaran budaya, drama, dan pengenalan tradisi pertanian dengan tujuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta pelestarian budaya lokal yang mulai banyak dilupakan oleh generasi saat ini.

Mbak Tati yang memegang kertas berfoto bersama dengan para peserta kegiatan bioskop kebun bedah film “Harmoni” di Kaliaget Organic Space.
“Bahwa dia menginspirasi sampai sekarang. Memang, itu gak bohong. Aku juga kepikiran bahwa tiga unsur yang wajah Ruhana itu ternyata dipakai saat ini oleh teman-teman,” tegas Tati saat diwawancarai di kediamannya, Sabtu (18/2/2026). Mbak Tati juga menyoroti penguasaan bahasa dari Ruhana Kudus. “Buat aku yang hebat dari Ruhana itu, soal bahasa. Dia tuh mampu tiga bahasa, ya. Arab, Belanda dan tentunya Melayu.”
Saat Mbak Tati menuturkan tentang gerakannya yang saat ini dikembangkan dengan nama, Kaliaget Organic Space (KOS). Saya teringat kembali dengan Kerajinan Amai Setia (KAS) milik Ruhana Kudus.

