Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Begitulah Ruhana menggambarkan pemikirannya dengan apa yang disebutnya sebagai kemajuan perempuan. Baginya perempuan tidak perlu ‘menjadi laki-laki’ untuk dapat menaklukan zaman. Cukup dengan mengembangkan dimensi feminitasnya secara optimal, maka perempuan sanggup menggenggam zaman. diciptakan Tuhan dengan kekhususan memang berbeda dengan Perempuan dan laki-laki, tetapi tidak berarti lebih rendah daripada laki-laki. Perempuan bisa berjalan berdampingan dengan laki-laki, bekerja bersama-sama untuk menghasilkan dunia yang lebih baik, dunia yang berkemajuan. Tetapi itu hanya bisa jika perempuan memiliki ilmu pengetahuan, yang diperoleh melalui pendidikan.
Ruhana Kudus lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohammad Rasyad Maharaja Soetan, sedangkan ibunya bernama Kiam. Nama Kudus, diambil dari nama suaminya, yakni Abdul Kudus.
Ruhana Kudus, tidak pernah mencicipi yang nama pendidikan secara formal. Dia tidak pernah duduk di bangku mendapatkan pendidikan secara formal. Ayahnya lah yang sekolah. Di masa Ruhana, perempuan memang tidak boleh mengajarinya membaca dan menulis, belajar agama, dan sebagainya. Ayahnya juga sering membawakan Ruhana surat kabar atau majalah dari kantornya atau yang dibelinya.

