Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Ruhana Kudus tidak serta merta bergerak tanpa pengaruh pendahulunya, jauh sebelum itu, gerakan perempuan telah tumbuh sejak lama. Martha Christina Tiahahu (1817), Raden Ayu Ageng Serang(1825), Cut Nyak Dien (1850), Cut Metia (1870), Raden Ajeng Kartini (1879), Maria Walanda Maramis (1872), Dewi Sartika (1884), Nyai Achmad Dahlan (1872), Haji Rasuna Said (1910), dan Rahmah El Yunusiah (1901). Mereka semua adalah tokoh berpengaruh penting dalam perjuangan melawan penindasan, perbudakan dan penjajahan pada masa kolonial.
Dari buku “Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia” yang diterbitkan oleh Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada April 2017 tercatatkan bagaimana Ruhana abadi dalam tintanya, Ruhana mengatakan bahwa perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki.
Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang ke semuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.

