Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Saat menyaksikan historiografi film pendek Ruhana Kudus yang diputar di sela diskusi, ingatan saya terbang pada sosok-sosok perempuan tangguh masa kini. Roh Ruhana seolah berinkarnasi dalam keberanian para pemimpin redaksi perempuan seperti Uni Lubis (IDN Times), Ninuk Mardiana (Kompas), dan Evi Mariani (Project Multatuli) dan Najwa Shihab (Narasi). Semangatnya terus berdenyut seperti kegigihan Butet Manurung yang menembus rimba demi literasi masyarakat adat.
Jika dahulu Ruhana berjuang dengan mesin cetak manual untuk melawan buta huruf, kini kita melihat jurnalis dan aktivis digital seperti Kalis Mardiasih yang menggunakan media sosial untuk menyuarakan isu-isu krusial, mulai dari kekerasan seksual hingga kesetaraan gender. Mereka adalah “anak-anak ideologis” Ruhana yang menolak bungkam. Mereka sadar sepenuhnya, jika perempuan tidak menulis sejarahnya sendiri, maka orang lain akan menulisnya dengan penuh bias.
Dalam buku “Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia” diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1986 di Jakarta silam. Ruhana Kudus tercatat sebagai salah satu perintis pers perempuan di Indonesia. Pada 10 Juli 1912 terbitlah surat kabar “Sunting Melayu” yang redaksinya dipimpin oleh Ruhana Kudus hingga 1920. Surat kabar ini terbit 3 kali seminggu menerbitkan banyak karya tentang politik, kebangkitan perempuan Indonesia dalam bentuk prosa dan puisi.

