Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Pernyataan itu memantik tanya dalam batin saya: Bagaimana rasanya menjadi seorang Ruhana? Hidup dengan “Tiga Wajah” pendidik, penggerak ekonomi, dan jurnalis, di tengah kepungan sistem patriarki yang begitu tebal di tanah kelahirannya?
Membaca lembaran sejarah pers kita sering kali terasa seperti memasuki sebuah “klub eksklusif pria”. Nama-nama seperti Tirto Adhi Soerjo atau H.O.S. Tjokroaminoto bergema dengan gagah di podium utama. Namun, sosok Ruhana sering kali hanya diletakkan di catatan kaki, seolah ia hanyalah pemeran pendukung dalam panggung besar pergerakan nasional. Padahal, pada tahun 1912, ketika perempuan lain masih terbelenggu dalam pingitan, Ruhana telah sibuk memikirkan cara agar perempuan di pelosok Minangkabau bisa membaca dunia.
Ia adalah seorang visioner yang “berisik” dengan cara yang sangat elegan.
Ia tidak sekadar menuntut hak, ia membangun medianya sendiri. Melalui Amai Setia, ia merajut kemandirian ekonomi bagi kaumnya. Bagi Ruhana, jurnalisme bukanlah sekadar laporan peristiwa, melainkan senjata untuk memerdekakan pikiran yang terbelenggu oleh adat yang kaku dan cengkeraman kolonialisme.


