Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
Tetapi jelas bahwa tahun 1914, pada dasarnya dapat ditandai sebagai masa ‘genderang kemajuan’ bagi masyarakat pribumi. Di Jawa misalnya, pada masa itu, terlihat tanda-tanda kemajuan di bidang politik, ekonomi, dan pendidikan, dengan menjamurnya organisasi-organisasi seperti: Syarekat Islam, NU, Muhammadiyah, dan lain-lain.
Dari menitik jejak “Sang Melayu” Ruhana Kudus ini, sudah sewajarnya ia diberikan gelar pahlawan, meski ironis memang, gelar Pahlawan Nasional baru disematkan kepadanya pada tahun 2019 silam. Namun, bagi saya, pengakuan yang paling jujur bukanlah sekadar selembar SK Presiden. Pengakuan itu ada pada setiap baris tulisan perempuan Indonesia yang hari ini masih berani mengkritik, mengedukasi, dan menginspirasi.
Tinta Ruhana mungkin telah kering di atas kertas-kertas usang Sunting Melayu, namun apinya tetap menyala dalam setiap ketikan kita hari ini. Kita bukan lagi sekadar “disunting” atau menjadi hiasan sejarah. Kita, perempuan dan lelaki yang terinspirasi olehnya adalah sang penulis utama bagi masa depan bangsa. ***

