Menitik Jejak Tinta Abadi “Sang Melayu” Ruhana Kudus
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month 22 jam yang lalu
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga

Tiga pelajar perempuan tengah membaca buku di Kaliaget Organic Space, seolah menggambarkan “3 Wajah Roehana Koedoes” masa kini.
JAKARTA, LENSAIND.COM– Di balik pendar layar gawai yang benderang, tepat pada Hari Pers Nasional (9/2) kemarin, saya seolah terlempar ke masa silam. Suara Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) yang membedah “3 Wajah Roehana Koedoes” di kanal YouTube IDN Times merayap masuk ke telinga, membawa atmosfer percakapan dari abad yang berbeda.
Jemari saya tak henti memutar ulang video tersebut, sebuah kontras yang tajam dengan bayangan jemari Ruhana Kudus yang lebih dari seabad lalu berjibaku dengan lumuran tinta saat menyusun aksara di kantor redaksi Sunting Melayu.
Najwa Shihab, yang hadir sebagai pembicara tamu, melontarkan pernyataan yang menggetarkan: “Ruhana Kudus memahami sesuatu yang terasa sangat modern. Literasi membuat perempuan berpikir, kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat, dan tulisan membuat suara itu sampai. Jadi, Ruhana memahami sesuatu yang saat ini masih kita perjuangkan.”

